Membangun Personal Branding Content Creator

By Ika Putri Yuliana Sari - Mei 04, 2021

Personal Branding Content Creator


Ketika kecil, kalau ditanya cita-cita pasti yang keluar dari mulut adalah yang muluk-muluk. "Aku mau jadi dokter!", "Guru aja, deh!", "Pilot kayaknya asyik". Karena disaat itu kita belum tau perjuangan untuk mendapat itu semua. Sebenarnya tidak juga disebut muluk-muluk, sih. Semua tergantung dari pribadi kita dan peran orang tua dalam mengarahkan mimpi anaknya. Kita sebagai anak hanya tau enaknya berada diposisi itu tanpa tau resiko dari cita-cita itu. Kalau anak zaman sekarang, kalau ditanya cita-cita mungkin akan jawab, "Aku mau jadi YouTuber kayak Atta Halilintar", Aku mau jadi Content Creator kayak Raditya Dika". Yang keren-keren pokoknya. 

Jujur, dulu saya punya mimpi ingin menjadi seorang Pramugari. Why? Karena saya punya postur tubuh yang tinggi dan saya berpikir kalau gaji seorang pramugari itu besar. Hahaha, kecil-kecil sudah mata duitan!. Dulu saya pikir tinggi itu cukup untuk menjadi seorang Pramugari. Ternyata tidak, gaess! Hahaha. Setelah besar dan mulai mengerti resiko setiap pekerjaan yang diambil. Ternyata menjadi pramugari tidak hanya butuh postur tubuh yang tinggi. Tapi juga harus mahir berbahasa asing. Duh, jadi ingat skor TOEFL yang pas-pasan! Selain itu, biaya untuk menjadi pramugari juga tidak sedikit. Jadi, saya berpikir berkali-kali mengenai mimpi saya itu. Dannn, oke! Saya menyerah menjadi pramugari. 

Cita-cita menjadi pramugari gagal. Kemudian saya menemukan cita-cita baru, yaitu menjadi Psikolog. Dari pramugari ke psikolog? Jauh banget, ya. Ya mungkin itu yang dimanakan remaja sedang mencari jati diri. Hihi. "Kenapa lari ke Psikolog?". Jawabannya, karena saya senang bertemu dengan orang baru dan senang mempelajari karakter orang tersebut. Mempelajari sifat manusia sangat menyenangkan saat itu hingga akhirnya saya berjuang untuk masuk ke PTN yang memiliki program studi Psikologi. SNMPTN, SBMPTN, Ujian Mandiri. Semua sudah saya lakukan, mungkin memang belum rejekinya saat itu. Jadi saya berpikir, "Oke, coba tahun depan lagi". 

Di tahun yang sama Allah berkehendak lain, saya diterima di Perguruan Tinggi yang tidak pernah saya pikirkan dan diprogram studi yang tidak pernah saya bayangkan juga. Program studi 'Agroteknologi'. Yaps! Jurusan pertanian. Dulu, saat pertama masuk kuliah, saya sempat bertanya pada diri sendiri. "Saya mau jadi apa dengan langkah yang saya ambil sekarang?". Manusia seperti saya yang tidak pernah bermain tanah dan tidak pernah menanam, masuk ke jurusan pertanian? 

Hari demi hari terlewati. Saya mulai berpikir, saya punya skill. Saya ingin skill saya berkembang. Singkat cerita, dari kecil saya sangat suka dengan hal yang berbau gambar. Hingga saat memasuki sekolah menengah kejuruan, akhirnya mulai mengasah skill dengan belajar software desain grafis. Dulu mendesain hanya jadi kesibukan sendiri saat tidak ada kegiatan. Lambat laun, saya jadi sering mendapat kepercayaan untuk mengerjakan beberapa desain yang kasarannya dulu masih gratisan. Wkwkw. Membuka bisnis kaos sablon pertama kali. 

Haha, banyak belajar dari usaha itu. Yang tadinya tidak tau apa-apa tentang kaos, sekarang jadi cukup tau. Pernah ditipu juga karena kurang cermat. Hingga tahun 2019, saya memberanikan diri berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan desain grafis yang diadakan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. Diberi pelatihan selama satu bulan kemudian diuji dengan sertifikasi skill. Alhamdulillah, saya kembali ke Banjarnegara membawa selembar kertas yang bisa menjadi bukti bahwa skill saya sudah bisa diakui. Bangga? Tentu bangga! Karena banyak orang yang tidak seberuntung saya. 

Berbekal satu lembar kertas itu tadi, saya memberanikan diri untuk membuka usaha Jasa Desain Logo. Membuka usaha dengan modal nekat dan laptop butut, yang penting jalan. Sedikit demi sedikit ilmu saya kumpulkan. Tapi tetap saja, masih belum puas dengan skill yang dipunya. "Aku harus cari pengalaman dulu". Akhirnya ditahun 2021, saya ditawari bekerja menjadi seorang Content Creator. Waduh, berat nih. Tapi perlu dicoba! 

Coba-coba sudah jadi bumbu di keseharian. Hahaha. Coba dulu aja, kalau gagal coba lagi. Dan seterusnya. Bagaimana rasanya jadi content creator? Berat! Beneran deh, bukan lagi menakut nakuti. Karena job description-nya banyak. Kamu harus menguasai banyak skill. Aku yang tadinya hanya ingin fokus disatu bidang, kini harus merangkak belajar dari nol untuk skill lainnya. Tapi untuk kamu yang ingin menjadi content creator boleh-boleh aja, Kok. Tapi jangan lupa upgrade skill terus, ya! 

Kalau ada yang bilang, content creator tugasnya cuma upload Instagram terus digaji. Sini maju deket aku, biar aku cubit! Hahaha. Content creator berasal dari bahasa inggris, yang artinya pembuat konten. Dari dua kata itu, akan dijabarkan banyak job description. Seorang content creator harus menguasai banyak sosial media, bahkan bisa dibilang semua sosial media seperti Instagram, Facebook, TikTok, Youtube, Twitter, dan lainnya. Jadi, seorang content creator juga harus menguasai banyak skill seperti graphic designer, video editor, photography, copywriting, storytelling, marketing, dan masih banyak lagi. Agar kamu lebih dipercaya khalayak umum bahwa kamu mumpuni dibidang itu, kamu harus punya portofolio dan personal branding yang kuat. 


Membangun Personal Branding Menjadi Content Creator

Langkah membangun personal branding


Membuat orang-orang percaya bahwa kamu mumpuni di bidang tersebut tidak mudah, tapi kamu harus tetap melakukannya agar orang disekitar tau bahwa kamu menguasai bidang tersebut. Dimulai dari teman terdekat, keluargamu, dan orang-orang yang mengenalmu. Personal branding, bisa dimulai dengan cara berikut :

1. Self Awareness

Kenali dirimu sendiri lebih dari siapapun. Kamu harus mengetahui nilai dan kemampuan apa saja yang ada dalam dirimu. Dibalik banyaknya job description yang ada, kamu harus tetap memilih concern yang menjadi unggulanmu. Semisal, kamu ingin lebih unggul di Graphic Designer atau Video Creator. Kamu harus tentukan satu untuk menjadi ciri khas darimu. 

2. Jadi diri sendiri

Sebagai content creator, menjadi diri sendiri itu penting. Karena itu akan menjadi sebuah titik dimana kamu akan dikenal. Contohnya, Gita Savitri, dia seorang content creator yang bisa dicontoh untuk segi 'menjadi diri sendiri' menurutku. Kenapa begitu? Dalam kanal YouTube nya, Gita sering menceritakan tentang 'Seperti apa dirinya', 'Bagaimana dia bisa sampai sekarang?'. Berbeda dengan content creator yang hanya ingin mencari sensasi, tidak punya ciri khas. 

3. Jangan malu mengakui dirimu

Hai, pejuang! Dirimu perlu diakui, lho. Jangan malu untuk bilang, 'Hai, kenalin aku Mawar. I'm an Content Creator'. Tidak harus dari mulut, tapi bisa dari segi portfolio. Apalagi sekarang jamannya sosial media. Jangan malu untuk mengunggah hasil karyamu di sosial media, ya. Personal branding bukan hanya tentang pencitraan, tapi personal branding juga mengenai caramu bertutur. Apa nih, maksudnya? Jadi, saat kamu memperkenalkan dirimu didepan umum itu yang akan orang terima. Misal, "Aku kerja di Industri Mekanik, lho", padahal personal branding yang sedang ingin kamu bangun tentang bidang kreatif. Bisa jadi, orang akan berprasangka bahwa kamu adalah seorang ahli mekanik. Jadi, lebih hati-hati lagi dalam mengenalkan dirimu.

4. Jangan segan untuk berkolaborasi

Personal branding bukan hanya tentang personal, kita bisa berkolaborasi untuk membangunnya. Banyak manfaat yang akan kita dapatkan jika kita berani berkolaborasi dengan pihak lain, diantaranya : meningkatkan kepercayaan audiens, menunjukan kredibilitas yang kita miliki, dan kita juga bisa menjaga hubungan baik dengan kolaborator lain. 

Saat membangun personal branding jangan lupa untuk selalu menjadi diri sendiri, tak perlu berpura-pura menjadi orang lain, attactiveness comes from your uniques. Jadi, apakah kamu sudah siap membangun personal branding yang kuat? Apa yang sudah kamu lakukan untuk membangun personal branding? Sharing dikolom komentar, ya.


  • Share:

You Might Also Like

1 komentar

  1. Wah mba aku masih malu buat sharing karya tulisanku di blog hahahah agak gimana gitu soalnya masih baperan kalau ada yang nyinyirin nulis blog aja terus g*blog wkwk pernah ada yg blg gitu jadinya masih ngerem buat share2 padahal emang kudu personal branding ya..

    BalasHapus